kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================
Kunyit, Hikmah dari Tali Silaturrahim
Selasa, 11/01/2011 06:08 WIB | email | print

Oleh Mira Kania Dewi

Kutengok telepon genggamku sesaat. Oh! Rupanya ada miss call dari seorang sahabat yang lama tak berjumpa. Kulihat gambar pesan diterima di layar telepon genggamku. Bu Iyul (bukan nama sebenarnya) mencoba meninggalkan pesan tertulis atau lebih dikenal dengan istilah sms, setelah tak berhasil menghubungi dan berbicara langsung denganku.

Kubalas dengan menelepon kembali kepadanya. Sejenak, ia mematikan nada dering yang terdengar di telingaku dan berusaha untuk menghubungiku lagi.

Senang mendengar suaranya yang ramah dari seberang telepon. Ia ada nun jauh di sana, di daerah Yogyakarta, Jawa Tengah. Beliau menanyakan kabarku termasuk kabar anak-anak. Ya, Bu Iyul dan keluarganya dekat dan menyukai anak-anak. Tak heran, jika anak-anak pun senang dekat dengan keluarganya dan selalu mengingatnya dengan baik.

Dulu kami sama-sama tinggal di negeri seberang. Bu Iyul orang yang ramah bersahaja dan selalu tersenyum. Suami Bu Iyul saat itu menjabat sebagai kelapa sekolah di tempat anak-anakku belajar menuntut ilmu di Kedutaan Indonesia.

“Assalamu’alaikum, bagaimana kabar anak-anak? Sehat semua Mbak?” sahutnya ceria.

“Alhamdulillah aku dan suami sehat, tapi anak-anak sedang terserang diare Bu”.

“Sudah diobati Mbak?”

“Yang pertama dan kedua sudah ke dokter, tapi yang kecil belum Bu”.

Ah, entah kenapa akhir-akhir ini anak-anak menjadi sering sakit. Mungkin kami masih dalam proses beradaptasi dengan cuaca yang sering tak menentu, sehingga rawan terserang penyakit. Rabu siang, si sulung mengeluh sakit perut dan disertai diare serta muntah. Kamis siang, anak kedua mengeluh hal yang sama.

Khawatir menular kepada si bungsu, bergegas siang itu aku dan kedua anakku berobat ke dokter. Ah, kalau mikirin biaya rasanya menyedihkan. Harga obat di jaman seperti sekarang ini, tak bisa dibilang murah. Untuk sekali berobat saja, minimal seratus lima puluh ribu rupiah harus siap di tangan.

Tak hanya itu, butuh waktu yang cukup lama untuk sekali berobat. Antrian yang panjang mengular di ruang tunggu membuat kami harus menunda kegiatan lain. Itu pun belum termasuk menunggu obat untuk ditebus di apotek rumah sakit. Ya, sekaligus belajar melatih kesabaran sepertinya.

Iktiar dan do’a sudah dilakukan, namun hari ketiga si kecil tak luput pula terserang diare. Laa haula walaa kuwwata illa billah.

“Saya punya obat mujarab untuk sakit diare maupun sembelit. Gak perlu ke dokter dan gak perlu beli obat di apotek”, lanjut Bu Iyul.

“Oh ya? Boleh saya tahu Bu?”. Aku menjadi bersemangat dan antusias ingin segera mengetahui obat mujarab apa yang dimaksud Bu Iyul.

“Gampang kok Mbak dan inshaAlloh tidak ada efek sampingnya. Sejak anak-anak saya bayi, saya sudah mencobanya dan manjur sekali. Ini pun hasil penelitian seorang apoteker di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Kota Gudeg.”

Anak-anak Mbak Iyul sudah besar-besar, bahkan ada yang sudah kuliah di perguruan tinggi. Wah, aku jadi tambah penasaran. Kalau ada alternatif lain yang lebih murah, mudah, dan nyaris tidak beresiko, kenapa tidak dicoba? Tidak ada salahnya bukan?

Bu Iyul segera menguraikan resepnya :

“Cuci bersih dan parut kunyit sebesar ibu jari tangan. Campurkan dengan air matang sebanyak satu sendok makan. Minum air perasan kunyit tadi setelah disaring terlebih dahulu.”

“Sepertinya mudah ya Bu. Berapa kali sehari diminumnya Bu?”.

“Biasanya sekali minum langsung manjur lho, Mbak?”

“Oya?? Saya langsung coba di rumah deh, Bu. Terima kasih banyak atas ilmunya ya Bu. Wassalamu’alaikum.”

Sesampainya di rumah, aku bergegas menuju dapur. Alhamdulillah, ada sisa kunyit dua ruas ibu jari walapun agak mengering. Kubuat peresan kunyit seperti yang diuraikan Bu Iyul.

Syukurlah, si bungsu mau meminumnya. Maklumlah, anak-anak kami sudah terbiasa minum obat dari dokter. Jadilah minum jamu menjadi sesuatu yang asing bagi mereka dan butuh perjuangan untuk meminumnya, terutama ‘wangi rempah’ yang cukup menyengat.

Mereka jarang sekali minum jamu-jamuan, padahal jamu tak kalah hebatnya dengan obat racikan. Bahkan sudah terbukti dari generasi ke generasi akan keunggulannya. Itulah salah satu sebab mengapa Belanda datang menjajah negeri kita ini demi rempah-rempah tersebut. Yah, salahku sendiri yang tak membiasakan hal itu.

Hari berlanjut malam, tak ada keluhan lagi dari bungsuku yang cantik. Besoknya, ia sudah buang air besar normal seperti biasa. Subhanalloh! Aku girang bukan kepalang. Memang kita tidak boleh menyepelekan rempah-rempah yang kaya khasiatnya untuk mengobati berbagai penyakit. Aku jadi bisa tidur nyenyak lagi jika melihat anak-anak sehat kembali. “Oh kunyit, kau yang tadinya hanya dilihat sebelah mata, kini menjadi barang berharga buatku dan keluarga.”

“Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (QS. An-Nisa [4] : 1)

Itulah salah satu hikmah yang aku dapat dari menyambung tali silaturrahim. Beruntung, di era modern ini banyak fasilitas yang mendukung dan memudahkan tersambungnya tali ukhuwah islamiyah. Telepon, email, sms, dan masih banyak lagi.

Jazakillah khoir atas ilmunya ya, Bu Iyul. Semoga Alloh SWT selalu melindungi Bu Iyul dan keluarga di mana pun kalian berada. Aamiin. Salam ukhuwah.

Wallohu a’lam bishshowaab.

(mkd/bintaro/10.01.11)

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
About my fb: pops_intansay@yahoo.co.id
pops_intansay@yahoo.co.id
View all posts by my fb: pops_intansay@yahoo.co.id →
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.
← kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah →
Like
Be the first to like this post.
5 Responses to kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah

1.
my fb: pops_intansay@yahoo.co.id says:
April 4, 2011 at 2:04 pm

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================

Daripada Kufur dan Takabbur, Lebih Baik Bersyukur
Senin, 10/01/2011 14:33 WIB | email | print

Oleh Rifki

Seiring perjalanan waktu yang telah kita lalui, maka semakin banyak orang-orang yang mengisi ruang-ruang dalam kehidupan kita. Mulai dari kawan sepermainan ketika masa kanak-kanak, teman sekelas di sekolah dasar, SMP, SMA, kampus, bahkan teman-teman seperjuangan di kantor atau perusahaan. Secara bergantian, satu per satu mereka datang dan pergi.

Pernahkah suatu ketika kita berjumpa lagi dengan kawan-kawan lama tersebut? Baik dalam sebuah pertemuan besar semacam reuni, atau mungkin sekedar berpapasan di suatu tempat yang tidak pernah direncanakan. Di saat-saat seperti itulah, terkadang, kita terjebak dalam sebuah keadaan untuk membandingkan keadaan diri ini dengan keadaan mereka.

Ada mungkin seorang kawan yang kehidupannya sungguh sangat mapan. Pekerjaan dengan gaji yang luar biasa, tempat tinggal yang megah di salah satu komplek perumahan elit, dilengkapi dengan mobil yang mewah. Ada juga seorang kawan yang sudah mondar-mandir ke luar negeri karena mendapat beasiswa S2, S3, atau sekedar short course selama beberapa bulan. Ada pula kehidupan seorang kawan lain yang sepertinya sangat berbahagia dengan pasangan hidup dan putra-putrinya.

Di sisi lain, ada juga kehidupan seorang kawan yang sepertinya masih luntang-lantung. Bulan ini dapat pekerjaan, namun beberapa bulan kemudian menganggur kembali karena statusnya hanya sebagai pegawai kontrak. Ada juga yang mungkin mengalami putus-nyambung dalam masalah perjodohan, atau mungkin masih berusaha keras untuk mendapatkan keturunan.

Ketika membandingkan dengan keadaan kawan yang kondisinya jauh lebih baik, maka terjebaklah diri ini dalam sebuah perasaan gagal dalam kehidupan. Sejurus kemudian, hilanglah rasa syukur atas apa yang sudah berada dalam genggaman tangan dan melekat di badan. Kufur akan nikmat yang Allah berikan setiap detik dalam kehidupan di dunia ini. Selanjutnya bisa jadi hati ini terjangkit penyakit iri.

Pun ketika kita membandingkan dengan kondisi kawan yang tidak seberuntung diri ini, kita terjebak dalam sebuah kesombongan. Menganggap mereka lebih hina dari kita. Lalu kita pun lupa, bahwa semua yang kita miliki adalah buah dari kasih sayang Allah.

Ternyata keduanya menjebak kita kedalam dua hal yang sangat tidak disukai Allah SWT, kufur atau tidak mau bersyukur dan takabbur atau merasa sombong.

Mungkin, langkah yang terbaik agar dapat menghindarkan diri ini dari sifat kufur dan takabbur adalah dengan bersyukur dengan apa yang ada. Sehingga, bila ada seseorang dengan keadaan yang lebih baik dari diri kita, bukan menjadikan kita melupakan nikmat yang telah kita terima, namun menjadikan diri ini terpacu untuk menjadi lebih baik. Dan bila ada seseorang dengan keadaan yang tidak seberuntung diri ini, kita bisa menjadi orang-orang yang tetap bersyukur.

Wallahu a’lam.

http://jampang.multiply.com

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
Reply
2.
my fb: pops_intansay@yahoo.co.id says:
April 4, 2011 at 2:04 pm

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================

Jangan Bakar Kebunmu!
Senin, 10/01/2011 08:31 WIB | email | print

Oleh Abi Sabila

Parmin, karyawan yang sudah tiga tahun bekerja di Rumah Makan Sederhana itu hanya diam tertunduk. Sebuah kesalahan yang tak sengaja ia lakukan telah memancing amarah sang majikan. Berkali-kali Parmin meminta maaf, tapi tak juga meredakan amarah sang majikan. Omelan dan bentakan sang majikan terus mengalir, bagaikan tiada habisnya.

Sebenarnya Parmin tak ingin merasa sakit hati, karena apa yang diucapkan sang majikan memang hampir semua benar adanya. Bahwa karena rasa kasihan, maka sang majikan menerimanya menjadi pelayan di rumah makan yang sebenarnya tak perlu menambah karyawan. Bahwa ia sering meminjam uang pada sang majikan untuk dikirim kepada keluarganya, namun tak juga segera mengembalikan hingga sang majikan menganggapnya lunas begitu saja. Bahwa benar sang majikan sering memberi uang tambahan dari gaji yang seharusnya ia terima. Parmin menyadari itu, mengakui semua yang diucapkan sang majikan saat itu.

Tapi yang membuat Parmin sedih bahkan akhirnya sakit hati, sang majikan membongkar semua itu dihadapan banyak karyawan lainnya. Bahkan pengunjung yang tidak berkepentingan dan tidak tahu menahu awal persoalannya, menjadi tahu siapa dan bagaimana dirinya.

Mengapa harus diungkit, jika hanya membuat hati semakin sakit? Kalau memang ikhlas, mengapa semua kini digembar-gemborkan? Tidak hanya tangan kiri yang akhirnya tahu, bahkan semua orang tahu jika tangan kanannya telah berbuat kebaikan. Astaghfirulloh!

Parmin sedikit merasa lega setelah sang majikan menghentikan omelannya. Sebisa mungkin ia menekan rasa sakit hatinya pada sang majikan yang walau bagaimanapun telah banyak berjasa dalam kehidupannya. Ia berusaha untuk ikhlas menerima. Ia telah melakukan kesalahan, dan apa yang dikatakan sang majikan memang benar demikian.

Sementara sang majikan merasa puas telah mengeluarkan semua kekesalannya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa bukan saja hati Parmin yang sakit, tapi ‘kebun’ yang ia miliki saat itu sudah habis terbakar, nyaris tak bersisa.

***

Kisah diatas hanyalah fiktif belaka. Namun demikian, dalam konteks yang hampir sama bisa kita temui di kehidupan nyata.

Ibarat sebuah kebun, amal ibadah yang kita kerjakan adalah bibit-bibit yang kita semaikan di atasnya. Macam dan jenisnya, tergantung apa yang kita lakukan, kita tanamkan. Ada jenis pohon yang akan segera berbuah dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ada juga yang akan berbuah setelah menunggu dalam jangka waktu yang panjang. Dan ada juga yang berbuah sepanjang waktu, sepanjang musim. Pohon yang seperti ini tumbuh dari bibit bernama sedekah jariyah.

Jika tak diserang hama, bibit-bibit kebaikan akan tumbuh menjadi tunas dan berkembang menjadi pohon yang subur, berbunga dan akhirnya berbuah. Namun bila hama menyerang, atau bila kita tidak pandai dan bersungguh-sungguh merawatnya, maka pohon-pohon tidak akan tumbuh subur, layu sebelum berkembang, bahkan mati sebelum berbuah.

Begitupun amal kebaikan yang kita kerjakan. Mereka ibarat benih-benih yang kita sebar di perkebunan. Niat yang baik dan benar serta keikhlasan yang sempurna, untuk dan hanya mengharap ridho Allah semata adalah bibit unggul untuk kita harapkan buahnya, baik di dunia maupun di akhirat. Tapi, seumpama hama dan penyakit pada tanaman, setan akan selalu berusaha untuk merusak perkebunan kita dengan segala tipu muslihatnya.

Banyak pohon kebajikan yang kita tanam akhirnya tak menghasilkan buah, bahkan mati sebelum berbunga karena kita tak pandai memeliharanya. Niat yang lurus dan keikhlasan pada awalnya menjadi riya dan ujub pada akhirnya.

Seringkali kita tak mampu menjaga keikhlasan dari amal yang telah dikerjakan. Kisah di atas salah satu contohnya. Kebaikan sang majikan, pertolongan yang selalu ia berikan adalah bibit unggul baginya. Kemajuan usahanya adalah salah satu buah yang dihasilkan pohon kebaikannya. Namun sayang, kesalahan yang sejatinya adalah wajar sebagai manusia telah memancing amarahnya. Ia tak mampu mengendalikan emosi, menahan diri dari mengungkit semua yang pernah dia lakukan dengan ketulusan, ia berikan dengan keikhlasan. Kata-katanya telah menyakiti orang lain yang sebenarnya sangat menyadari kebaikan yang telah ia berikan. Kekesalannya, emosinya telah membakar habis pohon-pohon yang mulai berbuah, bahkan hingga ke tunas-tunasnya. Hanguslah kebun kebajikan, terbakar emosi, riya dan takaburnya. Innalilai wa inna ilaihi rojiuun.

Disadari atau tidak, sebenarnya sering kitalah yang menjadi hama dan ancaman bagi pohon-pohon di perkebunan kita sendiri. Setan sedemikian kerasnya berusaha untuk mengalihkan perhatian kita, melalaikan kita, melenakan kita dan menyelipkan rasa takabur ketika menyaksikan pohon-pohon kita tumbuh dengan subur. Setan boleh saja gagal menghalangi niat dan keikhalasan kita berbuat kebaikan, tapi setan tidak akan rela membiarkan amal ibadah kita tumbuh dan berbuah. Sulitnya mempertahankan keikhlasan menjadi kesempatan emas bagi setan untuk merusak amal ibadah manusia. Na’uzubillah!.

Perasaan kecewa manakala orang-orang tak menyadari bahwa apa yang mereka nikmati adalah hasil dari sedekah kita, kerja keras kita. Akan terasa bahagia dan bangga bila ada salah satu dari mereka yang mengatakan bahwa itu adalah hasil pemberian kita. Ini adalah bara yang disiapkan setan, dan akan berkobar menjadi api yang siap membakar habis bila tak segera kita padamkan.

Kita masih sering tergoda untuk mencari cara bagaimana agar orang tahu dan akhirnya mengakui bahwa kebaikan itu terjadi karena kita, campur tangan dan sumbangan kita. Ketika ‘pengakuan tak segera didapatkan, muncullah rasa kesal yang kemudian mendorong untuk mengungkit-ungkit apa yang sudah kita berikan. Tangan kiri yang tadinya dijaga jangan sampai tahu malah ikut memplokamirkan apa yang tangan kanan lakukan. Keikhlasan dan ketulusan yang semula menjadi pupuk, termakan sombong, riya dn takabur. Orang yang tadinya bersyukur dengan kebaikan kita menjadi sakit hati lantaran diungkit dan dipermalukan.

Jika kita masih saja demikian, tak ada buah yang bisa dinantikan karena pohon terlanjur mati sebelum berbunga. Kalaupun tersisa, hanyalah semak belukar yang tak bisa diharapkan apapun darinya , baik batang, daun maupun buahnya. Dan jangan kaget atau menyalahkan siapa-siapa, sebab bisa jadi pohon mati bukan karena hama dan penyakit yang menyerang, tapi karena kita tak pandai menjaga dan merawatnya. Luruskan niat, pertahankan keikhlasan, insya Allah ‘perkebunan’ kita akan menghasilkan apa yang kita harapkan. Amin.

Jangan biarkan nafsu membakar kebun-kebunmu!

http://abisabila.blogspot.com

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
Reply
3.
my fb: pops_intansay@yahoo.co.id says:
April 4, 2011 at 2:05 pm

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================

The Little Srilanka, What to be Prod of?
Minggu, 09/01/2011 12:12 WIB | email | print

Oleh Syaifoel Hardy

Siang tadi, dalam kesibukan weekend, bel pintu berdering. Kadang saya jengkel. Seringkali orang tak diundang atau salah alamat yang saya temui di depan pintu. Pengantar makanan dari KFC misalnya, acapkali salah alamat. Maklum, flat yang kami huni satu-satunya di groundfloor, tidak bernomer. Jadi, risikonya ya …itu tadi. Mereka pikir otomatis bernomor satu, langsung saja tekan tombol bel. Padahal tidak!

Pintu saya buka. “Yes….???” Saya menyapa, lesu. Lelaki setengah baya, berdasi, berkulit agak hitam, tersenyum, membalas: “Good afternoon Sir!” Membuat saya berubah. Setidaknya rasa iritasi jadi berkurang, karena keramahan ekspresi raut mukanya. Dia mulai membuka bicara. “My name is Siva. I am from Book Deals Trading. I would like to…..” Dan seterusnya.

Sebelum dia rampung menyampaikan segala bentuk jurus pendahuluan, saya buka lebar daun pintu. “Come in….please!” mempersilakan dia masuk. Ada garis kelelahan di wajahnya. Bercampur haus.

Barangkali begitulah. Wajahnya mengingatakan saya ketika berjuang di Trenggalek Selatan, di tengah hutan saat berjalan memenuhi panggilan masyarakat setempat memberikan pelayanan kesehatan. Bedanya, medan. Saya di hutan rimbun penuh dedaunan, yang satu ini di gurun. Tapi siapa peduli? Lelah..ya…lelah…butu air. Titik! Belum selesai lamunan tentang Trenggalek, kemudian dibuyarkan oleh: “Thanks!” ucapnya, lega.

Lelaki yang kemudian saya kenal sebagai salesman ini, menawarkan paket buku untuk anak-anak: First Reference for Young Readers. Menarik sepertinya. Meski bukan untuk saya. “This is not for me!” saya berusaha menolak. “I know. This might be good for your children!” Dia coba meyakinkan.
*****

Singkat cerita. Saya ambil buku tersebut. Saya bersedia membayar. Selain harga yang sudah dipatok, saya tambahin sedikit duit, yang barangkali bisa digunakan untuk beli juice. Tidak banyak jumlahnya.
Di luar dugaan saya. Tidak seperti kebanyakan salesman, orang yang satu ini beda. Dia kembalikan duitnya (Baca: Tip) kepada saya. Saya katakan: “This is from my heart!” “I appreciate that! This water is enough. Thanks!” Jawabnya, sambil membuka tutup botol air kemasan yang saya berikan. Namun kembali, agak setengah ‘memaksa’, saya taruh dalam genggamannya. Saya mengira, duit itu sudah ada di tangannya.

Saya kemudian sibuk melihat kembali buku-buku yang berjumlah lima buah dalam paket tersebut. Menarik memang. Beratnya sekitar 2 kgs. Seharga Rp250 ribu. Bagus untuk anak-anak, yang belajar bahasa Inggris. Buku seperti ini, di Indonesia pasti mahal sekali. Karena selain kualitas kertasnya, diperkaya dengan isi serta package yang menarik dan berwarna warni.

Ketika pamitan, dia bertanya kepada saya:” How is English book in Indonesia?” “Well…unlike you in Srilanka, you use English for study purposes, in Indonesia, you will not get good market for English books like in your place!” saya coba sedikit elaborasi.
“Yeah…because we were under British!” Tambahnya.
“We were under the Dutch!” jelas saya lebih lanjut.

Begitulah. Kemudian saya tutup pintu dan Siva pun melenggang…menjajakan buku-bukunya ke tempat lain.

Ketika saya ambil buku-buku yang dia taruh di meja, saya terkejut. Duit tambahan dari saya yang jumlahnya tidak seberapa tersebut, tidak dia ambil. Sebaliknya, hanya sebatas harga buku yang tertuang dalam kuitansinya saja yang dibawa. Saya tahu, ini bukan sebuah ketidak-sengajaan. Dia seorang pekerja. Dia butuh, kadang, tambahan upah. Saya yakin, pasti ada yang melatar-belakangi mengapa dia putuskan untuk tidak mengambilnya. Persoalannya bukan pada jumlah. Begitulah kesimpulan saya.
*****

Pertama kali ketemu orang asal Sri Lanka, saat saya bekerja di Kuwait, lebih dari sepuluh tahun lalu. Ratna namanya. Dia perawat asal Candy. Sebuah kota kecil di sebelah timur Colombo, sekitar 2 jam perjalanan. Ratna, sebuah nama yang umum di Indonesia sebagai sebuah nama hanya untuk perempuan, tetapi Ratna Srilanka ini laki-laki.

Dari sana kemudian merambat. Semakin lama, semakin banyak jumlah orang Srilanka yang saya temui. Di Timur Tengah, perlahan-lahan jumlah pekerja asal Srilanka yang dikirim ke sana, merangkak, naik. Apalagi sesudah terjadi perang sipil.

Saya tidak bakal membahas bagaimana sepak terjang orang-orang Srilanka di Timur Tengah. Saya hanya menyoroti kejadian siang tadi, serta mengambil hikmah dari sikap salesman Srilanka yang jarang saya temui.

Mayoritas pekerja asal Srilanka, ada pada level bawah. Seperti juga orang-orang asal Bangladesh (tentu saja orang Indonesia juga). Saya belum pernah menemui (meski barangkali ada saja), orang Srilanka yang menduduki porsi manajer di tempat-tempat di mana saya bekerja serta di lingkungan saya tinggal di luar negeri. Paling banter yang saya temui ya… itu tadi: sales executive atau Foreman.

Srilanka, negara yang ratusan tahun dijajah bergantian oleh Portugis, Belanda kemudian Inggris, sejak awal tahun 1500-an, sepertinya tidak pernah berhenti menderita. Awal tahun 1971 ketika mulai merasakan leganya bernafas dari cengkeraman kolonial inggris, nyatanya tidak membuat Srilanka lebih leluasa mengembangkan sayap berbagai sendi kehidupan ke arah yang lebih baik. Perang demi perang antar mereka sendiri membuat rakyat Srilanka melarat. Ribuan yang meninggal serta ratusan ribu kehilangan tempat tinggal. Ada yang lari ke Canada. Ada pula yang ke Amerika Serikat, juga Eropa. Ironisnya, di tengah-tengah kemelaratan Srilanka pernah meraih prestasi sebagai negara yang paling berhasil dalam menjalankan Keluarga Berencana, jauh sebelum Indonesia koar-koar tentang itu. Lulusan ahli Srilanka juga dikenal dan diakui oleh Inggris, Amerika Serikat serta Canada, tanpa harus menterjemahkan ijazah mereka. System pendidikan di Srilanka memang peninggalan Inggris. Srilanka yang barangkali miskin, nyatanya bisa berbangga.

Meski demikian, sikap salesman asal Srilanka yang yang temui tadi siang, membuat saya sebagai warga Indonesia, sempat terpana. Di tengah-tengah himpitan ekonomi yang demikian penat, ternyata orang ini masih menempatkan ‘martabat’ jauh lebih tinggi ketimbang sekedar uang. Sebuah istilah yang saya ingat dari buah karya Dahlan Iskan: Ganti Hati.

Sikap seorang anak manusia yang menempatkan prinsip dalam hidup. Tidak tergoyah oleh kenikmatan apalagi kemewahan yang sesaat. Lelaki Srilanka yang tidak kenal lelah mengetuk satu pintu ke pintu lain ini, ternyata tidak hanya menyandang barang dagangan di tangannya. Dia memang tidak mewakili semua orang Srilanka atas sikapnya. Tetapi di mata saya pasti, dia kantongi nama besar bangsa dan negaranya. Bahwa meski melarat, tetapi bermartabat.

Manusia Srilanka, tidak semiskin yang saya duga!

Doha, 8 January 2011
Shardy2@hotmail.com

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
Reply
4.
my fb: pops_intansay@yahoo.co.id says:
April 4, 2011 at 2:05 pm

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================

Catatan Kecil Buat Pernikahan Sahabatku
Sabtu, 08/01/2011 15:40 WIB | email | print

Oleh Fery Ramadhansyah

Keakraban dengannya bisa dikatakan belum lama. Baru setahun ini kami bisa saling kenal dan lebih tahu satu sama lain. Padahal, sebenarnya kami sudah jumpa sejak dulu masa di MTs dan Aliyah. Kalau dihitung lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tapi ya, begitulah. Pertemuan kami dulu hanya sebatas teman sekolah yang berpapasan hanya sekedar tahu kalau dia adalah Hasanul anak seorang ulama besar di kota Medan.

Waktu itu, dua bulan sebelum kepulanganku ke tanah air, dalam dunia maya ada yang menyapa dalam friendster milikku. Namanya Khalid, dan dia bercerita banyak tentang diri dan keluarganya. Dari situ aku kenal, bahwa abangnya adalah teman sekolahku dulu. Hingga saat aku kembali ke tanah air, kami ada kesempatan bertemu, dan kamipun bertemu di rumahnya.

Hasanul arifin, kawan lama yang sangat unik menurutku. Dan dalam beberapa hal aku sangat salut dengannya. Kawan layaknya saudara sendiri ini mempunyai karakteristik pribadi muslim sejati. Tentu, orang yang pernah berinteraksi dengannya akan berkata sama. Sosok sahabat lulusan dokter dari universitas islam sumatera ini berperawakan tinggi, dengan wajah yang syahdu, dan kata yang santun serta sikapnya yang selalu care sama teman-temanya.

Mungkin bagi orang yang pertama melihatnya menyangka dia lebih cocok dipanggil ustad. Karena busana yang dikenakannya selalu tampi islami. Tapi, ya begitulah. Orang akan lebih takjub, ketika mengetahuinya bahwa dia adalah seorang dokter yang sangat religi. Tidak tanggung-tanggung, selain kesibukannya bergelut dengan buku-buku kedokteran, dibalik itu dia mengagumi tokoh-tokoh spiritaul seperti Syekh Alawi, ustad yusuf mansur dan lainnya.

Teringat, hari itu saat aku bertemu dengan Abi (sebutan untuk ayahnya, yang sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri)dan membicarakan tentang perkembangan umat islam di kota Medan. Sebagai kapasitasnya ketua komisi fatwa MUI kota medan, juga alumnus Universitas Al Azhar-Kairo, beliau bercerita banyak tentang bagaimana peta perpolitikkan ketika itu. Kebetulan salah satu calon walikota saat itu adalah dari non muslim. Dan dilihat potensinya cukup besar mengalahkan calon dari muslim. Maka sampailah kesimpulan, kalau kami perlu merapatkan barisan agar tetap terpilih pemimpin seakidah.

Lepas diskusi dengan Abi, aku dan hasanul ngobrol tentang pernikahan. Ya, obrolan yang sangat menarik bagi bujangan. Apalagi dia telah berazam untuk menikah. Kulihat ketika itu tumpukan buku yang ada di mejanya, semua bertemakan tentang pernikahan. Mulai dari rumah tangga islami, sampai pernikahan A-Z. Pikirku, dari segi teori kayaknya dia sudah faham benar tentang pernikahan dan seluk beluknya. Namun, satu hal yang belum difahaminya ternyata apa yang ada dalam buku, masih perlu penyesuaian pada masing-masing individu. Dan cara yang paling tepat adalah dengan melangsungkan akad nikah tersebut. Dengan kata lain, learning by doing adalah metode paling baik dalam menghayati sebuah permasalahan.

Kita juga berdiskusi, bagaimana memahami sosok makhluk yang bernama wanita. Karena dalam rumah tangga nanti, seorang wanita ketika telah menjadi istri, maka kehidupannya benar-benar kompleks. Satu sisi dia adalah sosok yang harus difahami namun disisi lain kita juga butuh untuk difahami. Di sinilah penting untuk menyeimbangkan ego yang ada. Bagaimana laki-laki sebagai qawwam (pemimpin)menjalankan perannya sebagai orang yang lebih faham terhadap orang yang dipimpinnya.

Mengarungi bahtera rumah tangga, ibarat mengemudikan kapal pesiar di tengah samudera . Kapanpun rintangan akan selalu menghadang, ombak yang kuat dan angin yang kencang sering membuat kapal kita oleng. Belum lagi kalau bahan bakar yang digunakan habis atau kondisi dalam kapal ada yang rusak. inilah tantangan dalam mengarungi sebuah samudera. Bagaimana seorang nahkoda bisa membawa kapal itu bisa sampai pada pulau yang dituju.

Begitu halnya juga pada kehidupan rumah tangga. Gannguan dari dalam dan luar akan selalu menghiasi jalannya kehidupan rumah tangga seseorang. Di sini dibutuhkan sikap qawwam bagi laki-laki sebagai nahkoda. Maka jadilah kepala rumah tangga seperti rasulullah dulu. Niscaya akan muncul istilah baiti jannati, rumahku adalah surgaku.

***

Selamat menempuh hidup baru wahai saudaraku. Barakallahu Lakuma wa Baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fi khairin.

Medan, 8 Januari 2011
madhan_syah@yahoo.com

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
Reply
5.
my fb: pops_intansay@yahoo.co.id says:
April 4, 2011 at 2:05 pm

kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah untuk mualaf penuh hikmah – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
==============================

Aku, Anakku dan Hujan
Jumat, 07/01/2011 14:54 WIB | email | print

Oleh Halimah

Angkasa mulai mengumpulkan kekuatannya. Wajahnya hitam legam. Mentari pun tak berani menembus blokade itu. Hingga angin berlari tungganglanggang, menebas dan menerbangkan semua yang dilaluinya.

“Sebentar lagi hujan.” Beku suara itu di telingaku.

“Nah, nah, hampir saja menabrak angkot ini!” Sang sopir tak berhenti membuka mulutnya.

Aku merasa terganggu.

Kutengadahkan wajahku, menilik dijendela kecil angkot yang berwarna kuning ini, langit memang sedang muram. Angin memang menemaninya.

“Awasss…” teriakku, karena beberapa bakul yang terbuat dari anyaman bambu, terbang melintas di atas angkot yang sedang berjalan di jalan raya Teluk Lingga.

Aku merasa malu. Tadi aku tak begitu suka sopir banyak bercakap, tapi ternyata suaraku lebih dari sang sopir, malahan aku berteriak.

Jilbabku yang memang lebar akhirnya aku rentankan agak lebar bagian bawahnya untuk ksatria kecil di sampingku. Badannya sedikit meriang.

“Nak, masuk kedalam jilbab Mama ya?” Thoriq pun langsung membuka sedikit lebih lebar jilbab yang aku kenakan. Dan diapun merasa aman di ‘gua’ jilbab, disampingku.

Terasa hangat tubuhku, karena anakku, melekat erat disampingku. Aku yang tadi sedikit gemetar, mulai merasakan nikmatnya kehangatan tubuh.

Aku ingat istilah pada pelajaran Biologi, ‘Simbiosis Mutualisme’. Aku yang tadinya berniat agar anakku terjaga dari terpaan angin dan pasir, dengan masuk kedalam jilbab yang aku kenakan, ternyata aku pun merasakan manfaatnya juga.

Aku memerhatikan kiri dan kanan jalanan yang dilalui angkot. Takut terlewat tempat yang ingin aku singgahi. Hujan mulai turun dengan sangat derasnya, tapi aku tak membawa payung pagi ini, seperti yang biasa aku lakukan.

Aku memandangi anakku, berpikir agak lama, “kemana aku akan membawanya singgah. Sementara dia lagi tak sehat.”

“Berhenti di bengkel motor Honda ya Mas.” Sopir pun menganggukan kepalanya, tanda mengerti.

Aku memilih tempat itu karena disamping bengkel aku melihat sebuah garasi mobil yang permanen, dan tempatnya cukup bersih. Letaknya yang sangat dekat di pinggir jalan, tentu membuatku lebih mudah untuk berteduh, bersama buah hatiku ini.

Rasa syukur melekat di dadaku, yang mulai sesak. Tempat ini bersih. Aku membuka kedua sandalku dan kemudian duduk diatasnya.

Thoriq pun aku tempatkan disebelah dalam, menghindari terpaan angin kencang dan hujan yang mulai menari.

Tak banyak kata yang dilontarkannya, padahal biasanya, dia akan selalu bertanya, “ kenapa begini?” atau, “kenapa begitu?”

Mungkin dia peka akan keinginanku yang ingin meresapi suara hujan yang menetes dari ujung-ujung atap di depan kami. Atau mungkin juga dia merasa lelah.

Beberapa menit kemudian, “Mama, ayo pulang.”

“Masih hujan sayang…”

“Aku mau pulang.”

Dia mulai tak sabar, dan berdiri mendekati mobil yang bercat putih, teronggok dalam kebisuan di depan kami.

Tangannya mulai terulur untuk membuka pintu bagian depan.

“Nak, itu bukan mobil kita. Jangan sampai orangnya marah, dan mengusir kita dari sini.”

“Aku hanya melihat-lihat. Coba lihat ada bayanganku di pintu ini.”

Badannya pun di goyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Kepalanya pun mulai diangguk-anggukkan. Dia memang tak jadi menyentuh mobil. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Pandangan mulai aku alihkan ke langit. Masih gelap. Hujanpun sepertinya akan lama berhentinya.

“Mama… Kapan hujannya berhenti?”

“Mari kita berdoa! Ya Allah Yang Maha Pengasih, tolonglah kami. Tolong hentikan sejenak hujan ini, agar kami bisa pulang ke rumah.”

Thoriq cukup mengerti apa yang aku ucapkan. Dia hanya tersenyum memandangku. Dan kemudian mulai mengambil posisi, duduk diatas paha kiriku. Aku merasa keberatan, maka aku pun lesehan di lantai berwarna orange ini.

“Thoriq berat lho!”

“Aku nggak mau duduk sendiri.”

“Tapi Mama cape’ Sana duduk sendiri, disamping Mama, agar tak kena angin kencang.”

“Nggak mau.”

Ya sudah, dia lagi tidak enak hati. Aku biarkan dia menikmati tempat duduknya. Dan bersandar manja didadaku. Aku pun mencium pipi montoknya. Dan bersyukur kepada Allah memberikan aku seorang anak yang istimewa.

Hujan masih betah di langit. Langitpun masih berkabung. Aku memerhatikan tetesan-tetesan air dihadapanku. Aku menemukan keajaiban. Menemukan kekuasaan Tuhan pencipta hujan.

“Proses hujan tercipta diantaranya merupakan kumpulan dari awan-awan yang bersatu, yang dikerjakan oleh angin. Hingga awan itu menyatu, dan menjelma menjadi mendung. Jika manusia yang menciptakan hujan, tentu hujan yang turun bukan seperti saat ini. Mungkin berupa siraman, seperti jika kita mengambil air di sebuah timba, dan melemparkan airnya dijalanan. Tentu airnya yang terlempar bukan lagi tetesan.

Bukan seperti hujan dihadapanku ini. Hanya berupa tetesan-tetesan yang kecil. Walaupun ritme turunnya cepat, tapi tetap saja berupa tetesan kecil, yang akan aman bila kita berjalan dibawahnya.”

Beberapa menit kemudian.

Aku mulai browsing di ponselku. Tapi anakku juga ingin menggunakannya.

“Maaf Tho, Mama ingin membaca tulisan Mama.”

“Aku juga mau pakai.”

Aku membiarkannya untuk menggunakan ponselku. Dan diapun merubah tampilan ponselku.Sentuhan tangannya pun merambah nada dering. Hal yang sudah biasa dia lakukan. Hingga kadang, aku tak tahu bila ponselku berdering, aku tak mengenal nada deringnya.

Selintas aku merasakan sesuatu yang asing singgah di jeda waktuku ini. Aku merasakan seperti seorang gelandangan yang tak punya rumah, tak punya makanan. Hingga aku merasa nelangsa sendiri.

Aku berada ditempat asing. Sebuah garasi di pinggir jalan. Aku tak tahu siapa penghuninya, dan tak meminta ijin untuk menggunakannya. Mungkin saja mereka mencurigai kami, aku dan anakku. Mungkin saja mereka berpikir, dibalik jendela gelap mereka, bahwa kami patut dicurigai.

Sekarang kan lagi musimnya orang tak punya. Orang asing berada di sekitar rumah, memang perlu diwaspadai. Mungkin mereka memata-matai isi rumah. Mungkin saja. Jadi aku tidak perlu khawatir bila mereka punya perasaan itu. Aku akan maklum saja.

Atau mungkin saja, di saat hujan yang sangat lebatnya ini, kami akan diusir dari tempat ini, dengan berbagai alasan. Aku membayangkan, bahwa kami tak punya tempat berteduh yang nyaman selain di sini.

Tapi memang, nyaman atau tidak. Suka atau tidak, bila bukan milik kita, maka kita harus bersiap-siap untuk “hijrah”.

Mungkin pikiranku sedikit nyeleneh, tapi siapa sih yang tahu hati seseorang. Aku berpikir, jika hujan tak reda dalam beberapa waktu, maka aku akan hengkang dari tempat ini. Apapun resiko yang akan aku hadapi.

Lega rasanya dapat membuat keputusan, disaat aku tak ingin pindah dari sini.

Langit mulai putih. Hujan pun mulai malas menetes. Aku tersenyum, “Saatnya tiba!”

“Kita pulang ya Nak. Hujan mulai reda.” Aku mengamit lengan kecilnya dan mulai memasukkannya kembali kedalam jilbab panjangku.

“Mama gendong aku saja. Tanahnya becek.”

Aku pun mengendongnya, sambil berhati-hati menjejakkan kaki di jalanan. Menyebrangi jalan beraspal, melintasi jembatan Ulin yang cukup panjang.

“Haiii… singgah dulu. Nanti kamu basah.” Seorang kawan sedang bersih-bersih di teras depan rumahnya.

“Terimakasih. Aku mau cepat sampai.” Dengan senyum aku melewati rumahnya.

“Singgah aja Mbak. Maaf nih, aku nggak punya payung.” Seorang ibu yang berada di dalam rumahnya, berteriak cukup nyaring.

“Terimakasih Mbak. Nggak apa-apa, hujan udah reda kok.”

Jalan ini merupakan jalan alternatif. Aku suka melalui jalan ini. Sepanjang jalan ini aku mengenal baik penghuninya. Setiap melintasi daerah ini, membuatku merasakan kehangatan sapaan mereka, walau memang jarang sekali aku singgah untuk berbincang. Biasalah karena selalu diburu waktu.

Peristiwa disaat hujan ini, memberi sebuah pelajaran bagaimana kondisi batin seseorang yang menumpang pada sebuah tempat, tapi hatinya sedikit was-was, takut tidak disukai kehadirannya. Dan juga melihat betapa Allah mengasihi makhluknya, dengan menurunkan hujan hanya dengan berupa tetesan kecil, yang tetap aman bila kita terguyur hujan. Sapaan beberapa ibu yang kami lewati rumahnya, dan memanggil kami untuk berteduh di rumahnya, semuanya itu menghangatkan jiwaku.

Subhanallah. Semua waktu yang kita lalui selalu mempunyai hikmah, tinggal bagaimana kita menangkapnya untuk memaknainya dalam kehidupan ini.

Alhamdulillah.

Sengata, 3 januari 2011

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com

==============================
kumpulan cerita untuk mualaf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen untuk mualaf penuh hikmah
Reply

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: